Social Icons

Pages

Rabu, 01 Agustus 2018

HAMA PADA TANAMAN KACANG HIJAU


HAMA PADA TANAMAN KACANG HIJAU


oleh : Herlina, SP

UPTD BP3 Kec. Taliwang




Hama tanaman kacang hijau sering dianggap sepele, padahal serangannya bisa menyebabkan penurunan produksi dan penurunan kualitas hasil panen. Bahkan serangan hama pada tanaman kacang hijau tidak jarang mengakibatkan kegagalan total. Hama pada tanaman kacang hijau bisa menyerang mulai dari benih yang baru ditanam, ketika benih berkecambah, saat tanaman berbunga hingga tanaman kacang hijau berproduksi.


Serangan hama kacang hijau menyebabkan kerusakan pada benih yang belum tumbuh, kerusakan daun, kerusakan batang dan kerusakan polong.

Beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman kacang hijau antara lain semut, lalat bibit, lalat buah, ulat grayak, oteng-oteng, penggulung daun, ulat jengkal, penggerek polong, ulat buah, kutu daun dan kepik.

1. Semut

Hama semut biasanya menyerang benih kacang hijau yang baru ditanam. Jenis semut merah bertubuh kecil dan berada didalam tanah adalah jenis semut yang paling sering menyerang benih kacang hijau. Serangan semut menyebabkan benih berlubang, bahkan semut bisa memakan habis benih tersebut. Akibatnya benih akan membusuk dan tidak bisa tumbuh.


2. Oteng-oteng/Penggerek Daun

Hama oteng-oteng menyerang dan merusak daun tanaman kacang hijau, baik daun muda maupun daun tua. Serangan lebih sering terjadi pada daun tanaman kacang hijau yang masih muda. Serangan menyebabkan daun berlubang-lubang, kemudian daun akan mengering dan mati.


3. Lalat bibit/lalat kacang (Ophiomya phaseoli tryon)

Lalat bibit/lalat kacang (Ophiomya phaseoli tryon)


Lalat bibit menyerang benih kacang hijau yang baru ditanam dan belum tumbuh. Benih yang terserang terdapat lubang-lubang kecil bekas gigitan. Serangan bisa menyebabkan benih tidak tumbuh dan membusuk. Hama ini juga menyerang tanaman muda yang baru tumbuh, gejalanya terlihat jika terdapat daun yang berlubang-lubang tidak beraturan. Serangan ini sama persis dengan serangan lalat bibit pada benih kedelai.


4. Kepik Hijau (Nezara Viridula)

Kepik Hijau (Nezara Viridula)


Kepik hijau biasanya bergerombol dibalik daun kacang hijau. Hama ini menyerang dan merusak polong kacang hijau dan menyebabkan polong kacang hijau mengempis dan kering.


5. Penggerek Buah/Penggerek Polong (Etiella zinckenella treit)

Hama ini menyerang polong kacang hijau dan tinggal didalamnya. Serangan menyebabkan polong kacang hijau menjadi busuk dan rusak. Serangan pada bunga akan menyebabkan tanaman kacang hijau tidak dapat membentuk polong.


6. Ulat Buah/Ulat Polong (Heliothis armigera Hbn)

Ulat polong memiliki tipe serangan yang mirip dengan penggerek polong, yaitu tinggal didalam polong kacang hijau dan memakannya. Sehingga menyebabkan polong kacang hijau berlubang dan rusak.


7. Penggulung Daun (Lamprosema Indiva F)

Hama penggulung daun menyerang dan merusak daun tanaman kacang hijau. Gejala serangan terlihat jika terdapat daun-daun tanaman kedelai yang menggulung. Hama ini terdapat pada daun kacang hijau yang menggulung tersebut, kemudian akan memakan daun dan tulang daun dan menyebabkan daun menjadi rusak.


8. Kutu kebul (Bemisia tabacci)

Kutu kebul (Bemisia tabacci)
Serangan kutu kebul menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang hijau terhambat dan kerdil. Kutu kebul bergerombol dibawah daun kacang hijau dan menyebabkan daun mengkerut dan menguning.


9. Lalat Buah

Lalat buah menyerang buah kacang hijau dan menyebabkan polong membusuk. Telur lalat buah disimpan didalam polong dan akan menetas menjadi larva. Larva kemudian menyerang polong hingga polong menjadi busuk dan rontok. Serangan lalat buah mulai terjadi pada saat bunga membentuk buah sampai polong hampir masak.


10. Ulat Grayak (Spodotera litura F)

Ulat Grayak (Spodotera litura F)


Ulat grayak menyerang dan merusak seluruh bagian tanaman kacang hijau, mulai dari daun, batang dan buah. Serangan ulat grayak jika sudah terlanjur parah akan menyebabkan tanaman mati dan mengering.

11. Ulat Jengkal (Chryssodeixis chalcites Esp)

Ulat jengkal adalah pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Larva ulat jengkal menyerang seluruh bagian tanaman, terutama daun muda. Serangan mengakibatkan daun-daun yang rusak berlubang-lubang tidak beraturan. Tanaman kacang hijau yang terserang akan terhambat pertumbuhannya dan kerdil.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/materilokalita/cetak/26973
Sumber gambar: google

Senin, 09 Juli 2018

Budidaya Tanaman Jagung


BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG



oleh : Herlina, SP
UPTD BP3 Kec. Taliwang


Langkah-langkah yang dilakukan dalam budidaya tanaman jagung.

1.      Memilih Benih

Dalam memilih bibit jagung sebaiknya harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat, karena langkah awal ini akan sangat menentukan keberhasilan anda dalam menanam jagung.
  • Baca dengan benar tanggal kadaluarsa yang ada dikemasan benih, pilih yang kadaluarsanya masih lama. Daya tumbuh benih sangat dipengaruhi oleh lamanya bibit tersebut disimpan, semakin lama maka daya tumbuhnya akan semakin kecil.
  • Cari tahu karakteristik dari tanaman jagung tersebut, seperti apa tumbuhnya, ketahanan terhadap hama, keseragaman ukuran biji, tidak ada kutu / hama gudang, dan masa panennya.





2.      Menyiapkan Lahan Tanam

Untuk menghasilkan tanaman jagung yang subur dan menghasilkan buah yang super, lahan tanam atau kebun harus digemburkan terlebih dahulu.
  • Mengolah tanah untuk media pertanaman dilakukan dengan cara membalik dan memecahkan bongkahan tanah agar diperoleh tanah yang gembur sehingga keadaan airase tanah dapat diperbaiki.
  • Penggemburan dapat dilakukan dengan cangkul atau bajak.
  • Setelah itu dapat diberi dengan pupuk kandang atau kompos, taburkan secukupnya saja jangan terlalu berlebihan.


Persiapan Lahan Demplot Tanaman Jagung di Desa Lalar Liang




3.      Penanaman Jagung

Setelah lahan sudah siap, penanaman jagung hibrida dapat dilakukan.
  • Penanaman dilakukan dengan membuat lubang-lubang menggunakan tajuk atau tugal (kayu yang diruncingkan salah satu ujungnya).
  • Penanaman dilakukan dengan ukuran 70cm x 20 cm (70cm adalah jarak antar baris, 20cm adalah jarak antar tanaman jagung).
  • Kedalaman lubang sekitar 3-5 cm, masukkan bibit 1-2 biji setiap lubang, dan tutup dengan menggunakan tanah di sekitar lubang. Penutupan dapat dilakukan dengan menginjak tanah yang ada disekitar lubang. Hal ini bertujuan agar bibit tidak dimakan semut atau burung.
  • Jika tanah penutup merupakan bongkahan dan keras, sebaiknya diambil kembali. Karena akan mempengaruhi pertumbuhan bibit, tunas bibit jagung tidak tumbuh sempurna.





4.      Perawatan Tanaman Jagung

Seperti tanaman budidaya yang lain, jagung juga perlu dirawat dan dipupuk supaya hasil panennya maksimal, perawatan tanaman jagung bisa berupa membuang tanaman gulma yang ada di sekitar tanaman jagung, irigasi yang baik, serta pemberian pupuk sesuai kebutuhan.
·         Penyiangan sebaiknya dilakukan sejak jagung sudah mulai tumbuh.
·         Penyulaman dilakukan untuk lubang-lubang yang jagungnya tidak tumbuh.
·         Pembersihan rumput sebaiknya dilakukan secara terus menerus sampai buah jagung sudah mulai tua dan batang jagung sudah mulai mengering. Saat jagung sudah mulai kering, pembersihan rumput dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida.




Anjuran Pemupukan menurut Malai Daun dan HST

Anjuran
Pupuk Ke-1
Pupuk Ke-2
Pupuk Ke-3
Pupuk Tambahan

Tanda Vegetatif
Daun 3
Daun 6 – 8
Daun Lebih dari 10
Bunga Jantan kurang dari 25%
Umur (HST)
7
21 – 25
-
-
Dosis Pupuk (Kg/Ha)
Phonska
150
150
-
-
Urea
100
50 – 100
50 – 100
75


  • Pemupukan menggunakan pupuk NPK dengan komposisi yang 
  • Pemupukan pertama dilakukan pada saat 7 hari setelah tanam. Pemupukan pertama ini juga sering dilakukan bersamaan dengan penanaman, namun karena diawal sudah menggunakan pupuk kandang maka pemupukan dilakukan 1 minggu setelah tanam.
  • Lakukan pemupukan kembali pada saat usia jagung 21 hari setelah tanam, dan pemupukan ketiga setelah jagung berusia 30-40 hari setelah tanam.




5.      Pemanenan Jagung

  • Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua atau mateng fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Penentuan waktu panen tergantung jenis jagung yang ingin didapatkan, misalnya jagung muda (sayur), jagung rebus, atau biji kering.
  • Jagung dapat dipanen setelah berusia 120 – 130 hari setelah tanam untuk memastikan benar-benar kering.
  • Jagung yang siap panen memiliki ciri-ciri : kelobot cokelat, rambut jagung hitam kering, biji jagung keras.

Petani Lalar Liang Panen Jagung



  • Cara pemanenan dapat dilakukan dengan cara manual atau pemocokan terhadap batang jagung atau dengan memetik jagungnya saja. Agar nilai jual jagung semakin tinggi, anda dapat mengeringkannya lagi agar kadar airnya benar-benar tinggal sedikit kemudian jagung dipipil dengan mesin pemipil.
  • Setelah jagung dipanen kemudian dijemur kembali sampai kering, selanjutnya baru dipipil dengan mesin pemipil. Setelah jagung terpipil dijemur kembali agar benar-benar kering, baru jagung tersebut dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi.


Senin, 02 Juli 2018

Mudahnya Menanam Kacang Hijau


Mudahnya Menanam Kacang Hijau


oleh : Herlina, SP

UPTD BP3 Kec. Taliwang





Kacang hijau merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia. Tanaman ini selain banyak mengandung zat-zat gizi juga bermanfaat untuk proses pengobatan. Secara agronomis dan ekonomis, tanaman kacang hijau memiliki kelebihan dibanding tanaman kacang-kacangan lainnya. Untuk mendapatkan hasil kacang hijau yang lebih tinggi masih memungkinkan jika kendala dalam pertumbuhannya dapat diatasi dengan teknologi budidaya yang tepat.

Komponen teknologi yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut:

Pola Tanam;
  • Pada Lahan Sawah : padi-padi-kacang hijau, penanaman dilakukan di awal musim kemarau dan pertengahan musim kemarau;
  • Di Lahan Kering : padi gogo-palawija-kacang hijau. Di lahan kering, tanaman kacang hijau pada bulan pertama tergantung dari curah hujan yang cukup tinggi antara 100-150 mm/bulan, sedangkan bulan kedua antara 50-100 mm/bulan.


Varietas;

Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun tegalan, namun pada daerah endemik varietas unggul yang tahan penyakit embun tepung dan bercak daun seperti Sriti, Kutilang, Perkutut, dan Murai dianjurkan untuk ditanam; Kebutuhan benih 20 kg/ha dengan daya tumbuh >90%.



Penyiapan Lahan

  • Pengolahan tanah harus dilakukan dengan benar. agar kelembapan tanah menjadi ideal.
  • Pembajakan hanya dilakukan bila tanahnya tidak terlalu basah. Jika pembajakan dilakukan pada saat tanahnya basah maka struktur tanah menjadi rusak.
  • Kacang hijau dapat tumbuh pada semua jenis tanah sepanjang kelembaban dan tersedianya unsur hara yang cukup.
  • Pada lahan bekas padi dilakukan TOT (Tanpa Olah Tanah) ;  jerami cukup dipotong pendek atau rata dengan tanah.
  • Pada lahan kering/tegalan tanah dibajak sedalam 15-20 cm, kemudian digaru dan diratakan, kemudian dibersihkan dari sisa-sisa tanaman gulma serta dibuat bedengan yang lebarnya sekitar 3-5 m ;
  • Diantara bedengan dibuat saluran drainase yang dalamnya kurang lebih 30 cm dan lebarnya 30 cm, yang fungsinya sebagai saluran drainase pada musim hujan dan saluran air irigasi pada musim kemarau.




Penanaman;

  • Penanaman di lahan sawah dapat dilakukan kurang lebih 2 biji per lubang, dengan jarak tanam sekitar 20 x 20 cm, dan jaraknya sekitar 40x15 cm atau 40 x 10 cm.
  • Penanaman dilakukan dengan cara di tugal, dengan kedalaman sekitar 3-5 cm. Lubang tanam ditutup dengan tanah atau jerami yang telah dipotong dapat dijadikan mulsa segera setelah tanam.
  • Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur tidak Iebih dan tujuh hari.



Pemupukan;

  • Pupuk yang digunakan antara lain 45 kg Urea + 45-90 kg SP36 + 50 kg KCI/ha untuk lahan yang kurang subur. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman; Bahan organik berupa pupuk kandang 15-20 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam.
  • Sebaliknya di lahan sawah bekas padi yang subur, tanaman kacang hijau tidak perlu dipupuk maupun diberi bahan orqanik.

Penyiangan;

Penyiangan dilakukan dua kali pada saat tanaman berumur dua dan empat minggu, Pada daerah yang sukar mendapatkan tenaga kerja dapat digunakan herbisida pra tumbuh non-selektif seperti Lasso, Roundup, Paraquat, Dowpon, atau Goal dengan takaran 1-2 l/ha yang diberikan 3-4 hari sebelum tanam.

Pengendalian Hama dan Penyakit;

Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan mengunakan pestisida apabila dengan menggunakan secara komplementer/alami tidak berhasil.




Pengairan;

  • Periode kritis tanaman terhadap air adalah pada saat tanam dan pada saat berbunga (umur 25 hari), pembentukan dan pengisian polong (45 hari). Pada masa lainnya, jumlah air yang dibutuhkan relative sedikit.
  • Pengairan diberikan melalui saluran antar bedengan.


Panen dan Pasca 

  • Panen dapat dilakukan apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat.
  • Panen dilakukan dengan cara dipetik dan sebaiknya dilkukan pada pagi hari pada saat udaranya masih lembab.
  • Jarak panen pertama dengan kedua dan ketiga bervariasi, sekitar 3-5 hari.
  • Pengeringan polong dapat dilakukan dengan sinar matahari, dapat dijemur di atas terpal/plastik.
  • Pembijian dilakukan dengan memasukan polong kedalam plastik dan dipukul-pukul dengan bambu hingga polong pecah.



Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/cetak/9690

Senin, 27 Maret 2017

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI

oleh : Herlina, SP
UPTD BP3 Kec. Taliwang

Pertanaman yang terserang penyakit blas di Desa Lalar Liang, Kec. Taliwang


A. GEJALA PENYAKIT BLAS

Penyakit blas disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea yang merupakan salah satu kendala utama dalam upaya peningkatan produksi, terutama pada pertanaman padi gogo. Penyakit blas dijumpai juga pada pertanaman padi di daerah pasang surut dan rawa.
Cendawan P. grisea dapat menyerang daun padi, buku batang, leher malai, malai padi, bulir padi dan kolar daun. Penyakit blas tidak hanya menyerang tanaman padi, tetapi dapat menyerang tanaman lain seperti gandum, sorgum dan spesies rumput-rumputan. 
Penyakit Blas menyerang semua fase pertumbuhan tanaman padi. Pada fase persemaian dan vegetatif umumnya menyerang daun sehingga disebut Blas daun. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih.

Bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat
Tanaman padi yang terserang Blas di Desa Lalar Liang, Kec. taliwang
Pada fase tanaman tua (generatif) penyakit ini menyerang leher malai, malai, bulir padi dan kolar daun, umumnya disebut Blas leher atau busuk leher. gejalanya bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah. 

Pertanaman yang terserang blas di Desa Lalar Liang, Kec. taliwang
Serangan blas daun yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan anakan produktif sehingga menyebabkan malai kecil dengan sedikit gabah. Tak hanya itu saja, bahkan dapat menyebabkan seluruh tanaman padi mati sebelum berbunga. Serangan blas leher dapat menurunkan tingkat produksi padi secara langsung, karena leher malai busuk dan patah sehingga pengisian bulir padi terganggu dan bulir padi menjadi hampa (gabug).

B. BIOLOGI DAN EKOLOGI PENYAKIT BLAS

Cendawan P. grisea mempunyai banyak ras, masing-masing ras tersebut dapat berubah dan membentuk ras baru dengan cepat apabila populasi tanaman atau sifat ketahanan tanaman berubah. Pada kondisi lingkungan yang mendukung, satu siklus penyakit blas yaitu dimulai ketika spora cendawan menginfeksi dan menghasilkan suatu bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika cendawan bersporulasi dan menyebarkan spora baru melalui udara terjadi dalam sekitar 1 minggu. Selanjutnya dari satu bercak itu dapat menghasilkan ratusan bahkan ribuan spora dalam satu malam, dan dapat terus menghasilkan spora selama lebih dari 20 hari.
Penyakit blas lebih menyukai kondisi periode embun yang panjang, kelembaban yang tinggi, sedikit atau tidak ada angin pada malam hari dan temperatur malam hari sekitar 22-29oC. Daun yang basah yang berasal dari embun ataupun sumber lain sangat dibutuhkan untuk infeksi. 
Spora dihasilkan dan dilepaskan pada kondisi kelembaban relatif yang tinggi, dan tidak ada spora yang dihasilkan pada kondisi kelembaban di bawah 89%. Sporulasi meningkat apabila kelembaban relatif di atas 93%, sedangkan temperatur optimum untuk perkecambahan spora, pembentukan bercak dan sporulasi adalah 32-35oC.
Bercak secara cepat akan berkembang menjadi lebih besar pada suhu 32oC selama 8 hari dan sesudahnya perkembangan bercak akan menurun. Perluasan bercak berlangsung lambat dan konstan pada suhu 16oC dalam waktu 20 hari.
Faktor lain yang mendukung perkembangan penyakit blas adalah pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan, tanah dalam kondisi aerobik dan stres kekeringan. Pemupukan nitrogen yang berlebihan (tinggi) dapat menghasilkan daun yang lunak dan terkulai, sehingga lebih sangat rentan terhadap penyakit blas, sedangkan pemberian Si cenderung membantu kekerasan dan ketegakan daun.
Pengaruh nitrogen terhadap sel epidermis adalah meningkatnya permeabilitas air dan menurunnya kadar unsur Si sehingga cendawan lebih mudah melakukan penetrasi. Sumber inokulum primer di lapang adalah jerami. Sumber inokulum benih umumnya memperlihatkan gejala awal pada persemaian. Untuk daerah tropis, sumber inokulum selalu ada sepanjang tahun karena adanya spora di udara dan tanaman inang alternatif selain padi.

C. PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS
Pengamatan Gejala Penyakit Blas di Desa Lalar Liang, Kec. Taliwang.

Dengan Teknik Budidaya

1. Penanaman Benih Sehat.
Pengendalian penyakit blas lebih efektif apabila dilakukan sedini mungkin. Untuk mencegah penularan melalui benih maka perlu dilakukan pengobatan benih dengan fungisida sistemik.

2. Perendaman Benih
Benih direndam  dalam larutan fungisida  yang berbahan aktif Trisiklazole selama 24 jam dan selama perendaman larutan diaduk merata setiap 6 jam.  Sesudah melakukan perendaman benih dikering anginkan di atas kertas koran hingga gabah siap disemai. 

3. Cara Pelapisan
Benih direndam ke dalam air murni (tanpa campuran) selama 2-3 jam lalu tiriskan hingga air tidak menetes lagi. kemudian fungisida dicampur/diaduk rata dengan benih.

4. Cara Tanam
Sangat dianjurkan  tanam dengan jarak tanam Legowo dan menggunakan sistem pengairan secara berselang untuk mengurangi kelembaban sekitar kanopi pertanaman. 

5. Pemupukan
Perkembangan penyakit dapat ditekan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang.

Dengan Penanaman Varietas Padi Yang Tahan Blas

Beberapa varietas padi yang tahan terhadap blas adalah :
- Inpari 21
- Inpari 22
- Inpari 26
- Inpari 27
- Inpago 4 sampai inpago 8

Dengan Penggunaan Fungisida Nabati dan Kimia

Fungisida Nabati 
Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual di pasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi.  

Fungisida Kimia
Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas. Penyemprotan dilakukan dua kali yaitu pada masa anakan maksimum dan masa awal berbunga. Beberapa fungisida sistemik yang biasa ada dipasaran : Isoprotiolane, Trisiklazol, Kasugamycin, Thiopanatemethyl, Difenoconazol, mikocide 70, Amistartop, Score, Pyoguilon, Nelumbo 250 EC, Prima Vit 

D. PENCEGAHAN PENYAKIT BLAS

1. Sanitasi lingkungan 
2. Pemakaian jerami Sebagai Kompos
Jamur P. grisea dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi atau jerami, maka dari itu perlu dilakukan Pembenaman jerami dalam tanah sebagai kompos pada saat proses dekomposisi miselia dan spora jamur mati karena naiknya suhu.
Sosialisasi Pengendalian Penyakit Blas, di Desa Lalar Liang Kec. Taliwang.

Dari berbagai sumber.

 

Sample text

Blogger news

Sample Text

Blogroll

Sample Text

 
Blogger Templates