Social Icons

Pages

Senin, 27 Februari 2017

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

Oleh : Herlina, SP
UPTD BP3 Kec. Taliwang

Kegiatan penyemprotan serempak sebagai upaya alternatif
pengendalian hama dan penyakit di Kecamatan Taliwang

Dalam budidaya tanaman padi, maka kita tidak akan terlepas dari ancaman hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman padi kita. Dalam mengatasi organisme pengganggu ini kita pelu melakukan penanggulangan agar tujuan budidaya kita bisa tercapai. 
Di bawah ini kita akan membahas tentang hama dan penyakit pada tanaman padi, gejala dan cara pengendaliannya.

A. HAMA PADA TANAMAN PADI

1. BELALANG
  

  • Merupakan hama pemakan daun & penghisap cairan malai muda (Walang Sangit).
  • Memakan daun dengan cara MENGGIGIT, MENGUNYAH & MENGHISAP (Walang Sangit).
  • Mulai mengganggu sejak persemaian hingga tanaman padi dewasa.
  • Berantas dengan à MESTAFEN 200EC, RACUN KONTAK YANG SANGAT AMPUH.
  • Konsentrasi penggunaan : 1 –  2 cc/liter à 15 cc – 30 cc/tangki 


2. LEMBING / KEPIK HIJAU


  • Merupakan hama penghisap.
  • Memakan dengan cara MENGHISAP.
  • Mulai mengganggu & mengancam sejak tanaman padi muncul malai.
  • Berantas dengan MESTAFEN 200EC, RACUN KONTAK YANG SANGAT AMPUH.
  • 1 –  2 cc/liter à 15 cc – 30 cc/tangki. 


3. PENGGEREK BATANG

  • Ditandai oleh kehadiran ngengat (kupu-kupu), kematian tunas-tunas padi (sundep, dead heart), kematian malai (beluk, white head), dan ulat (larva) penggerek batang. Yang berbahaya adalah keturunannya berupa larva atau ulat, terutamanya di dalam batang . 
  • Merusak tanaman pada semua fase tumbuh. Bila serangan terjadi pada pembibitan sampai fase anakan, hama ini disebut sundep dan jika terjadi pada saat berbunga, disebut beluk.
  • Insektisida yang efektif berbahan aktif: karbofuran, bensultap, karbosulfan, dimenhipo, amitraz, dan fipronil. 


4. WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens)


  • Vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Dengan menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkutan tanaman padi, WCk dapat menimbulkan kerusakan pd hampir semua fase.
  • Gejala : daun-daun yang menguning, kemudian tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar) yang dikenal dengan istilah hopperburn. Dalam suatu hamparan, gejala hopperburn terlihat sebagai bentuk lingkaran, yang menunjukkan pola penyebaran WCk yang dimulai dari satu titik, kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. 
  • Pengendalian : varietas tahan, penanaman padi dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran varietas, dan insektisida yang efektif berbahan aktif : amitraz, bupofresin, beauveria bassiana 6.20x1010 cfu/ml, BPMC, fipronil, amidakloprid, karbofuran, karbosulfan, metolkarb, MIPCI, propoksur, atau tiametoksan. 


5. WERENG HIJAU (Nephotettix sp. )



  • WH merupakan vektor penyakit tungro, 
  • WH menghisap cairan dari dalam daun bagian pinggir, tidak menyukai pelepah, ataupun daun-daun bagian tengah. WH menyebabkan daun-daun padi berwarna kuning sampi kuning oranye, penurunan jumlah anakan, dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek). 
  • Pemupukan unsur nitrogen yang tinggi sangat memicu perkembangan WH.
  • WH umumnya dikendalikan dalam satu paket dengan pengendalian tungro. Dianjurkan untuk menanam varietas tahan tungro, dan penggunaan insektisida yang berbahan aktif BPMC, bufrezin, imidkloprid, karbofuran, MIPC, atau tiametoksam.. 


6. KEONG MAS




  • Ditandai oleh adanya telur berwarna merah muda dan keong mas dengan berbagai ukuran dan warna. 
  • Keong mas  merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman. Bekas potongan daun dan batang yang diserangnya terlihat mengambang.
  • Keong mas dapat dikendalikan melalui: Memasang saringan di saluran irigasi, Menancapkan bambu untuk betelur, Memasukkan bebek ke sawah setelah umur tanaman padi 35 hst, Memungut Kiong Mas. 
  • Bila diperlukan gunakan pestisida yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris, dan saponin. 


B. PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

1. Tungro 


  • Fokus utama pengendalian Virus Tungro dilakukan terhadap serangga vektor, yaitu Wereng Hijau.
  • Gejala serangan tungro yang menonjol adalah perubahan warna daun dan tanaman tumbuh kerdil. Warna daun tanaman sakit bervariasi dari sedikit menguning sampai jingga.
  • Lakukan pembersihan gulma di areal pertanaman & lingkungan sekitar. Membajak segera setelah panen (tunggak jerami, segara dibongkar). Pergiliran tanaman : padi-padi-palawija. Tanaman serempak,yang tahan tungro.
  • Dengan bahan kimia à bila dijumpai wereng hijau, lakukan pencegahan sejak dipersemaian.


2. Hawar Daun ( Cercospora orizae )


  • Bercak cercospora disebabkan oleh jamur Cercospora oryzae. 
  • Penyakit menyebabkan kerusakan yang serius pada pertanaman di lahan yang kurang subur.
  • Penyakit menghasilkan gejala lurus sempit berwarna coklat pada helaian daun bendera, pada fase tumbuh – pemasakan . 
  • Gejala juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah. 
  • Penyakit dikendalikan dengan pemupukan berimbang yang lengkap, dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha 


3. Hawar Pelepah ( Rhyzoctonia solani )


  • Penyakit menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah, makin awal terjadi kerebahan, makin besar kehilangan yang diakibatkannya. Penyakit ini menyebabkan gabah kurang terisi penuh atau bahkan hampa. 
  • Hawar pelepah terjadi umumnya saat tanaman mulai membentuk anakan sampai menjelang panen. Namun demikian, penyakit ini juga dapat terjadi pada tanaman muda.
  • Penyakit disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani, dengan gejala awal berupa bercak oval atau bulat berwarna putih pucat pada pelepah.
  • Dalam keadaan yang menguntungkan (lembab), penyakit dapat mencapai daun bendera. Patogen bertahan hidup dan menyebar dengan bantuan struktur tahan yang disebut sklerotium. 


4. Busuk Batang (Helmintosporiun sp.)


  • Busuk batang merupakan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman dalam kanopi  dan menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah. Untuk mengamati penyakit ini, kanopi pertanaman perlu dibuka. Perlu diwaspadai apabila terjadi kerebahan pada pertanaman, tanpa sebelumnya terjadi hujan atau hujan dengan angin yang kencang.
  • Gejala awal berupa bercak berwarna kehitam-hitaman, bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar. Akhirnya, cendawan menembus batang padi yang kemudian menjadi lemah, anakan mati, dan akibatnya tanaman rebah.
  • Pemupukan berimbang dapat menekan perkembangan penyakit. Untuk mengurangi penyebaran lebih luas lagi, keringkan tanaman sampai saat panen tiba. 


Kamis, 26 Januari 2017

Pemupukan Berimbang Pada Padi Sawah

PEMUPUKAN BERIMBANG PADA PADI SAWAH

oleh : Herlina, SP
UPTD BP3 Kecamatan Taliwang

Demplot Pemupukan Berimbang di Desa Lalar Liang, Kec. Taliwang

PENGERTIAN PEMUPUKAN BERIMBANG

Pemupukan berimbang dapat diartikan sebagai pemupukan yang lengkap (Urea, TSP/SP-36, KCl ) dengan tetap memperhatikan kebutuhan unsur hara mikro. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit, unsur hara mikro (terutama unsur hara mikro esensial) mempunyai peranan penting dalam metabolisme dan proses fisiologis tanaman yang ujungnya berpengaruh terhadap produksi tanaman.

Prinsip berimbang dalam pemupukan padi sawah adalah keseimbangan antara ketersediaan hara yang ada dalam media tumbuh (tanah sawah) dan kebutuhannya bagi tanaman padi.

Konsep Pemupukan Berimbang dalam budidaya padi sawah harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
  • Status hara tanah
  • Kebutuhan tanaman, dan
  • Target hasil
Dalam praktek budidaya tanaman padi sawah, pemberian pupuk harus mempertimbangkan jenisnya, jumlah atau dosisnya serta waktu pemberian. 
Untuk mendapatkan hasil yang optimal dan efisien, maka petani (pelaku usaha tani) sebaiknya mengupayakan : 

  • Menambahkan kotoran hewan/binatang ternak untuk meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah 
  • Disarankan menggunakan Pupuk Pelengkap Cair (PPC) yang kandungan unsur mikronya lengkap 
  • Mengukur status hara tanah menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) 
  • Menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) dalam pemberian Nitrogen (N)

FUNGSI UNSUR HARA BAGI TANAMAN

NITROGEN ( N )
  • Membuat tanaman lebih hijau segar. 
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman. 
  • Komponen pembentuk protein, asam amino, dan klorofil. 
PHOSFOR (P2O5) 
  • Memacu sistim perakaran yang baik. 
  • Berperan dalam pembentukan bunga dan buah. 
  • Meningkatkan rendemen dan komponen hasil panen, mutu benih dan bibit.
KALIUM   (K2O) 
  • Membuat tanaman lebih tegak dan kokoh. 
  • Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama/penyakit dan kekeringan. 
  • Berperan dalam pembentukan pati, gula, dan minyak. 
SULFUR   (S)
  • Meningkatkan kelas mutu hasil panen
  • Meningkatkan ketahanan hasil panen. 
  • Komponen penting penyusun asam amino. 

SYARAT UTAMA AGAR UNSUR HARA DI DALAM TANAH DAPAT DISERAP OLEH TANAMAN SECARA OPTIMAL adalah HARUS  IDEAL

Komposisi Tanah Ideal


PENGERTIAN BAHAN ORGANIK

Bahan bahan yang berasal dari limbah tumbuhan atau hewan atau produk sampingan seperti pupuk kandang atau unggas, pupuk hijau, dll.

Fungsi Bahan Organik :
  • Menyediakan unsur mikro hara 
  • Meningkatkan kesuburan 
  • Pemupukan menjadi efisien 

FUNGSI PUPUK ORGANIK

1.   Memperbaiki fisik tanah   
  • Memperbaiki struktur dan tata udara tanah sehingga penyerapan unsur hara menjadi lebih baik. 
  • Meningkatkan daya sanggah air tanah sehingga ketersediaan air dalam tanah menjadi lebih baik. 
  • Menggemburkan tanah sehingga perkembangan perakaran lebih optimal. 
2.  Memperbaiki sifat biologi tanah 
  • Bahan organik merupakan sumber energi bagi mikroba tanah sehingga mikroba tanah berkembang lebih optimal.
  • Tanah dikatakan subur secara biologis jika mengandung minimal 10.000 mikroba tiap gram tanah.
3. Memperbaiki sifat kimia tanah : 
  • Sebagai penyedia unsur hara walaupun dalam jumlah kecil.
  • Menjadi penyangga unsur hara dalam tanah sehingga kehilangan unsur hara tanah berkurang dan pemupukan menjadi lebih efisien.
Kondisi Umum Tanah Sawah di Indonesia Bahan Organik  Kurang dari 1 % supaya kondisi tanah kembali ideal HARUS diberikan Bahan Organik 

MANFAAT PEMBERIAN BAHAN ORGANIK KE DALAM TANAH  :
  • Produksi Hasil Pertanian Meningkat 
  • Penggunaan Pupuk Lebih Efisien 
  • Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup
Kegiatan Pemupukan Pada Padi Sawah

Selasa, 27 Desember 2016

TEKNIK MENANAM JAJAR LEGOWO 2:1

TEKNIK MENANAM JAJAR LEGOWO 2:1

oleh : Herlina, SP
UPTB BP3K Kecamatan Taliwang

PENGERTIAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO

Legowo berasal dari kata Lego yang berarti luas/lapang) dan Dowo yang berarti  panjang; Sistem Tanam Jajar Legowo adalah penataan tanaman dengan pengaturan jarak tanam sedemikian rupa sehingga populasi meningkat dan jumlah tanaman mendapatakan efek pinggir lebih banyak dibanding cara tanam biasa; 
Dapat pula dikatakan bahwa system tanam jajar legowo merupakan cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan kemudian diselingi dengan  oleh 1 baris kosong, dimana jarak tanam pingir (yang dikosongkan) menjadi ½  jarak  baris di tengah (normal); 
Jajar legowo merupakan salah satu teknik bertanam yang memungkinkan tanaman padi menghasilkan produksi tinggi serta memberikan kemudahan aplikasi pemupukan dan pengendalian OPT 

PRINSIP JAJAR LEGOWO
  1. Meningkatkan populasi dengan pengaturan jarak tanam
  2. Memanipulasi lokasi tanaman pinggir lebih banyak dengan harapan hasil lebih tinggi
  3. Efektifitas sinar, sirkulasi udara dan penyerapan hara lebih baik
  4. Terdapat lorong panjang bebas tanaman
  5. Barisan tanaman yang dihilangkan disisipkan ke dalam sisi barisan terdekat
  6. Sisi barisan yang lain disisipkan tanaman baru
  7. Pada lahan yang lebih subur sebaiknya menggunakan jarak tanam yang lebih lebar dibandingkan lahan yang kurang subur
CARA DAN TATA TANAM JAJAR LEGOWO  2 : 1


KEUNTUNGAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO
  1. Meningkatkan jumlah populasi tanaman/rumpun
  2. Efek tanaman pinggir untuk fotosintesa maksimal
  3. Sirkulasi udara bagus
  4. Mempermudah pemeliharaan 
  5. Dapat dikombinasikan dengan pelihara ikan (mina-padi) atau pelihara bebek
  6. Menghemat pupuk, karena yang dipupuk hanya di bagian dalam baris tanaman saja
Jajar Legowo 2:1 menggunakan tali
di Desa lalar Liang Kec. Taliwang

Proses pemasangan tali untuk menanam Jajar Legowo 
di Desa lalar Liang Kec. Taliwang


Penanaman Jajar Legowo 2:1 di Desa lalar Liang Kec. Taliwang

Penanaman Jajar Legowo 2:1 menggunakan tali
di Desa lalar Liang Kec. Taliwang



Selasa, 16 Agustus 2016

Demplot PP Swadaya Desa Lalar Liang

Dalam rangka menyukseskan swasembada pangan, melalui kegiatan UPSUS desa Lalar Liang ikut ambil bagian dengan Demplot Penyuluh Pertanian Swadaya.

Nama Petani : Halel
Kelompok Tani : Lawang Agung
Komoditi : Jagung Manis
Luas Areal : 15 Are
Tanggal Tanam : 28 Juli 2016

Perlakuan :
Jarak Tanam : 75 x 25
Benih : Victoria dari PT Bisi

Perlakuan benih : fungisida Mesalgin
Pemupukan I : 15 Hst, NPK + Urea

 

Sample text

Blogger news

Sample Text

Blogroll

Sample Text

 
Blogger Templates